26 Agustus Tahun Kemarin : Sidang Skripsi

Di tanggal ini, pada tahun yang sama, terjadi pertempuran melelahkan antara mahasiswa lugu yang baru belajar nulis dengan tiga orang dosen penguji. Mahasiswa lugu itu menyerang dengan amunisi utamanya, berupa pemahaman yang ia dapat selama skripsi, hasil penelitian, dan metode penelitian yang dilakukannya. Satu persatu dosen penguji membalas serangan dengan berbagai pertanyaan. Ada yang dapat ditahan dengan mudah, ada pula yang sulit dan menciutkan percaya diri. Keringat dingin mengucur perlahan dan wajah pun memucat. Semua berakhir setelah akhirnya para penguji mengisi map yang berisi form penilaian. Hati tenang, dan fiuuh selesai juga.

8 Jam sebelumnya, di rumah, ibu menyiapkan jas yang telah ia beli khusus untuk sidang hari ini. Sedangkan ayah mencari sepatu yang biasa kupakai lalu menyemirnya. Sedangkan almarhum adik dengan cekatan menyiapkan dasi yang akan dipakai, hanya ia yang bisa menyiapkan dasi, rapi sekali. Saat itu kedekatan dengan keluarga begitu terasa, mereka begitu paham dengan situasi seperti ini. Semua mendoakan, semua menyemangati, menguatkan percaya diri di hati.

Beberapa bulan sebelumnya, tak terhitung berapa kali bolak-balik rumah-kampus-rumah-kampus. Terkadang jauh-jauh datang ke kampus hanya untuk mengedit beberapa paragraf. Terkadang bimbingan hanya berlangsung sejenak, padahal sudah lama-lama menunggu. Pusing dengan bugs yang baru ketahuan. Tidur jam 10 malam untuk bangun jam 1 malam, bug fixing, revisi dokumen, hitung ulang, dan kadang melamun. Gaji sebagai guru honorer pun dihabiskan untuk nge-print draft skripsi yang kalau ditotalkan bisa sampai ribuan halaman.  Tak peduli orang menilai skripsi ini buruk atau baik, yang penting ‘yes, I can do it’.

Rasa lelah, letih, dan segala pengalaman kurang menyenangkan selama mengerjakan skripsi seakan terbayar lunas ketika pengumuman kelulusan. Semua tersenyum bahagia penuh syukur. Bahagia rasanya bisa membuat keluarga bangga dan bahagia akan kelulusan ini. Hal yang istiwema adalah, prestasiku tak pernah seperti ini semenjak TK sampai SMA. ‘Fiuuh, beres juga kuliah, tinggal wisuda’, ujarku dalam hati.

Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah skripsi.

photo from : Danti

Subtitle Trimmer (Atau Apalah Istilahnya)

filmAwal cerita

Saya ada film tapi gak ada subtitlenya. Jadi, saya cari aja via google subtitlenya. Setelah dapat beberapa subtitle saya senang, tapi ada yang mengganjal di hati ini (ciee). Subtitlenya gak pas dengan jalannya si film. Subtitlenya telat muncul. Orang di film udah ngomong, eh subtitlenya baru muncul 10 detik kemudian. Kan gak enak.

Yaudah

Awalnya mau pakai Ulead video editor buat motong file film nya, namun rasanya kurang efisien. Yasudah mending coba pake java aja buat ngedit file subtitlenya. Saya gak tau apakah udah pernah ada yang bikin atau belum. Mau cari di google juga bingung kata kuncinya apa. Jadilah saya mengistilahkannya subtitle trimmer. a very very simple java program dan masih belum rapih.

Untuk kebutuhan sendiri sih, sudah bisa jalan. lumayan. Silahkan kalau mau mencoba. Menjalankannya gampang, langsung compile sendiri saja programnya. Jangan lupa isi parameter di mehtod main, ada tiga parameter : filename(path), leadtime, mode.

hehe :p

the Code

/**
 * Program  : Subtitle Trimmer
 * Author 	: risyana
 * Email  	: risyana[at]gmail[dot]com
 * License	: free to use, free to redistribute, free to develop. Credit please
 * */

import java.io.BufferedReader;
import java.io.File;
import java.io.FileNotFoundException;
import java.io.FileReader;
import java.io.IOException;
import java.text.DateFormat;
import java.text.ParseException;
import java.text.SimpleDateFormat;
import java.util.Date;
import java.io.Writer;
import java.io.BufferedWriter;
import java.io.FileWriter;

public class SubtitleTrimmer {
	String currentSubtitleFile;
	String leadTimeStr;
	String mode;
	String dir;

	SubtitleTrimmer(String currentSubtitleFile, String leadTimeStr, String mode){
		this.currentSubtitleFile = currentSubtitleFile;
		this.leadTimeStr = leadTimeStr;
		this.mode = mode;
		this.dir = GetFileDirectory(currentSubtitleFile);
	}

	public String GetFileDirectory(String currentSubtitleFile){
		int lastIndex = currentSubtitleFile.lastIndexOf("/");
		dir = currentSubtitleFile.substring(0, lastIndex);
		return dir;
	}

	public StringBuffer readCurrentSubtitle() throws ParseException{
		Date leadTime;
		String text = null;
		BufferedReader reader = null;

		File file = new File(currentSubtitleFile);
		StringBuffer contents = new StringBuffer();

		DateFormat df = new SimpleDateFormat("HH:mm:ss");
		leadTime = df.parse(leadTimeStr);

		try {
			reader = new BufferedReader (new FileReader(file));

			String start_time_str = null;
			String end_time_str = null;

			Date start_time ;
			Date end_time ;

			long start_time_new ;
			long end_time_new ;

			while ((text = reader.readLine()) != null){
				if (text.contains(" --> ")){
					start_time_str = text.substring(0, 8);
					end_time_str = text.substring(17, 25);

					start_time = df.parse(start_time_str);
					end_time = df.parse(end_time_str);

					int hours, minutes, seconds;

					// new start time
					if(mode == "minus"){
						start_time_new = (start_time.getTime() - leadTime.getTime());
					}else{
						start_time_new = (start_time.getTime() + leadTime.getTime());
					}

					int timeInSeconds = (int) (start_time_new / 1000);
					hours = timeInSeconds / 3600;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (hours * 3600);
					minutes = timeInSeconds / 60;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (minutes * 60);
					seconds = timeInSeconds;
					String start_time_new_str = Integer.toString(hours)+":"+Integer.toString(minutes)+":"+Integer.toString(seconds);

					// new end time
					if(mode == "minus"){
						end_time_new = end_time.getTime() - leadTime.getTime();
					}else{
						end_time_new = end_time.getTime() + leadTime.getTime();
					}

					timeInSeconds = (int) (end_time_new / 1000);
					hours = timeInSeconds / 3600;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (hours * 3600);
					minutes = timeInSeconds / 60;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (minutes * 60);
					seconds = timeInSeconds;
					String end_time_new_str = Integer.toString(hours)+":"+Integer.toString(minutes)+":"+Integer.toString(seconds);

					// replace old time with new start time
					text = text.replace(df.format(start_time), start_time_new_str);
					text = text.replace(df.format(end_time), end_time_new_str);
				}

				contents.append(text).append(System.getProperty("line.separator"));

			}
		}catch(FileNotFoundException e){
			e.printStackTrace();
		}catch(IOException e){
			e.printStackTrace();
		}finally{
			try{
				if(reader != null){
					reader.close();
				}
			}catch(IOException e){
				e.printStackTrace();
			}
		}

		return contents ;
	}

	public void writeNewSubtitle(StringBuffer contents){

		Writer writer = null;

		try{
			//String text = "this is a text file..";
			File file2 = new File(dir+"new_subtitle.srt");
			writer = new BufferedWriter(new FileWriter(file2));
			writer.write(contents.toString());
		}catch(FileNotFoundException e){
			e.printStackTrace();
		}catch(IOException e){
			e.printStackTrace();
		}finally{
			try{
				if(writer != null){
					writer.close();
				}
			}catch(IOException e){
				e.printStackTrace();
			}
		}

		System.out.println(contents.toString());
	}

	public static void main(String[]args) throws ParseException{
		// use this constructor to enter needed arguments :
		// arg#1: fill with path and filename current subtitle
		// arg#2: fill with lead time with format HH:mm:ss
		// arg#3: fill with 'minus' to backward subtitle, or fill with any text to forward subtitle

		SubtitleTrimmer st = new SubtitleTrimmer("D://coba SubtitleTrimmer//titanic.srt","00:00:11","minus");

		st.writeNewSubtitle(st.readCurrentSubtitle());
		System.out.println("success");
	}
}

Update Aug 21 2011
Memperbaiki beberapa line untuk kasus jika subtitlenya terlalu cepat.

/**
 * Program  : Subtitle Trimmer
 * Author 	: risyana
 * Email  	: risyana[at]gmail[dot]com
 * License	: free to use, free to redistribute, free to develop. Credit please :D
 * */

package fileAndString;

import java.io.BufferedReader;
import java.io.File;
import java.io.FileNotFoundException;
import java.io.FileReader;
import java.io.IOException;
import java.text.DateFormat;
import java.text.ParseException;
import java.text.SimpleDateFormat;
import java.util.Date;
import java.io.Writer;
import java.io.BufferedWriter;
import java.io.FileWriter;

public class SubtitleTrimmer {
	String currentSubtitleFile;
	String leadTimeStr;
	String mode;
	String dir;

	SubtitleTrimmer(String currentSubtitleFile, String leadTimeStr, String mode){
		this.currentSubtitleFile = currentSubtitleFile;
		this.leadTimeStr = leadTimeStr;
		this.mode = mode;
		this.dir = GetFileDirectory(currentSubtitleFile);
	}

	public String GetFileDirectory(String currentSubtitleFile){
		int lastIndex = currentSubtitleFile.lastIndexOf("/");
		dir = currentSubtitleFile.substring(0, lastIndex);
		return dir;
	}

	public StringBuffer readCurrentSubtitle() throws ParseException{
		Date leadTime;
		String text = null;
		BufferedReader reader = null;

		File file = new File(currentSubtitleFile);
		StringBuffer contents = new StringBuffer();

		DateFormat df = new SimpleDateFormat("HH:mm:ss");
		leadTime = df.parse(leadTimeStr);

		int timeInSeconds = 0;

		try {
			reader = new BufferedReader (new FileReader(file));

			String start_time_str = null;
			String end_time_str = null;

			Date start_time ;
			Date end_time ;
			Date default_time;	// 21 aug 2011

			long start_time_new ;
			long end_time_new ;

			while ((text = reader.readLine()) != null){
				if (text.contains(" --> ")){
					start_time_str = text.substring(0, 8);
					end_time_str = text.substring(17, 25);

					start_time = df.parse(start_time_str);
					end_time = df.parse(end_time_str);
					default_time = df.parse("21:00:00");	// 21 aug 2011

					int hours = 0, minutes = 0, seconds;

					// new start time
					if(mode == "minus"){
						start_time_new = (start_time.getTime() - leadTime.getTime());
					}else{
						start_time_new = start_time.getTime() + (default_time.getTime()+leadTime.getTime()) ;	// 21 aug 2011
					}

					timeInSeconds = (int) (start_time_new / 1000);
					hours = timeInSeconds / 3600;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (hours * 3600);
					minutes = timeInSeconds / 60;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (minutes * 60);
					seconds = timeInSeconds;

					System.out.println("   | "+start_time.getTime()+"&"+leadTime.getTime()+" = "+start_time_new);

					String start_time_new_str = Integer.toString(hours)+":"+Integer.toString(minutes)+":"+Integer.toString(seconds);

					// new end time
					if(mode == "minus"){
						end_time_new = end_time.getTime() - leadTime.getTime();
					}else{
						end_time_new = end_time.getTime() + (default_time.getTime()+leadTime.getTime()) ;	// 21 aug 2011
					}

					timeInSeconds = (int) (end_time_new / 1000);
					hours = timeInSeconds / 3600;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (hours * 3600);
					minutes = timeInSeconds / 60;
					timeInSeconds = timeInSeconds - (minutes * 60);
					seconds = timeInSeconds;
					String end_time_new_str = Integer.toString(hours)+":"+Integer.toString(minutes)+":"+Integer.toString(seconds);

					// replace old time with new start time
					text = text.replace(df.format(start_time), start_time_new_str);
					text = text.replace(df.format(end_time), end_time_new_str);
				}

				contents.append(text).append(System.getProperty("line.separator"));

			}
		}catch(FileNotFoundException e){
			e.printStackTrace();
		}catch(IOException e){
			e.printStackTrace();
		}finally{
			try{
				if(reader != null){
					reader.close();
				}
			}catch(IOException e){
				e.printStackTrace();
			}
		}

		return contents ;
	}

	public void writeNewSubtitle(StringBuffer contents){

		Writer writer = null;

		try{
			//String text = "this is a text file..";
			File file2 = new File(dir+"new_subtitle.srt");
			writer = new BufferedWriter(new FileWriter(file2));
			writer.write(contents.toString());
		}catch(FileNotFoundException e){
			e.printStackTrace();
		}catch(IOException e){
			e.printStackTrace();
		}finally{
			try{
				if(writer != null){
					writer.close();
				}
			}catch(IOException e){
				e.printStackTrace();
			}
		}

		System.out.println(contents.toString());
	}

	public static void main(String[]args) throws ParseException{
		// use this constructor to enter needed arguments :
		// arg#1: fill with path and filename current subtitle
		// arg#2: fill with lead time with format HH:mm:ss
		// arg#3: fill with 'minus' to backward subtitle, or fill with any text to forward subtitle

		SubtitleTrimmer st = new SubtitleTrimmer("D://ceceu//The Chronicles of Narnia-The Voyage of the Dawn Treader.srt","00:00:04","xx");

		st.writeNewSubtitle(st.readCurrentSubtitle());
		System.out.println("success");
	}
}


Wilujeng Angkat

Hari Sabtu 1 Januari 2011 merupakan hari terakhir baginya. Di mana banyak orang yang sedang bergembira dalam euforia peringatan tahun baru 2011. Sore itu Ia terlihat tidak seperti biasanya, nafasnya terlihat lebih cepat. Dalam keadaan seperti itu, Ia masih sempat untuk meminta saya dan ayah agar melatih kaki dan tangannya yang hampir tak bisa ia gerakkan. Sebuah semangat untuk bisa sembuh. Dan yang paling mengharukan bagi kami adalah, Ia mampu bersyahadat sebelum kami membimbingnya dengan lafadz-lafadz Allah. Subhanallah.

Sekuntum Kamboja Yang Gugur

Biar luput dari pandangan
Tidak pupus di dalam ingatan
Kehilangan sebutir bintang di persada seni
Menjadi kenangan

Terlukis senyuman manismu
Tergambar senda gurauanmu
Tuhan lebih menyayangimu
Menjemputmu pergi terlebih dahulu

Bersema di jasadmu yang kaku
Diiringi gerimis yang sendu
Airmata tak terbendung lagi
Menangisi perpisahan ini

Di pagi hari yang mulia
Dikunjungi teman dan saudara
Bersama harapan dan doa
Moga berbahagia di negeri yang baqa

Sekuntum kemboja yang gugur
Menemani dikau di pusara
Biar detik dan musim berlalu
Hingga kini tiada pengganti

oh Tuhan, cucurilah rahmat ke atas ruhnya
dan tempatkanlah ia di sisi hamba-hambaMu yang bertaqwa
tempat yang telah kau janjikan nikmat untuk hamba-hamba mu
(nasyid by: Hijaz)

Nasyid ini untuk mengenang sang adik yang telah pulang terlebih dahulu. Semoga Ia bahagia di sisi-Nya. Banyak inspirasi dan pelajaran yang saya dapat dari almarhumah.

Wilujeng Angkat, Bageur.

Sebelum berangkat wisuda

Sebelum berangkat wisuda sempat berfoto, karena adik tak bisa ikut.

Berfoto setelah sholat subuh

Ketika akan berangkat wisuda, berfoto setelah beliau sholat subuh.

Fenomena Aneh Tentang Skripsi

skripsiSebenarnya ini adalah hal tidak ilmiah yang tiba-tiba melintas di pikiran saya. Melihat begitu gigih dan militannya beberapa rekan saya yang sedang mengerjakan skripsi (padahal saya juga sedang mengerjakan skripsi). Mereka yang gigih dan militan itu akhirnya bisa sidang lebih awal, dan tentunya akan lulus lebih awal, dan tentunya pula akan wisuda lebih awal. Mencermati tiga sampai empat orang rekan saya yang super militan itu, ternyata ada persamaan yang mereka miliki yaitu :

  • Mereka punya pacar / calon pendamping
  • Pacar mereka sudah lulus kuliah

ah masa sih…

Menurut saya pribadi, kedua alasan tersebut bisa dinilai benar adaya. Dan tentu itu juga bukanlah alasan utama atau satu-satunya. Untuk menyelesaikan skripsi tentu saja tidak usah nyari pacar dulu atau menunggu pacarnya lulus duluan :D . Keberadaan dan dukungan orang yang kita kasihilah yang akan menambah dan melipatgandakan semangat untuk menyelesaikan sesuatu.

Salam Super (ala Pak Mario Teguh) :D

Resiko Menjadi Mahasiswa So’ Rajin

Kejadiannya ketika semester 2, ketika semangat kuliah sedang begitu membara seperti api :D . Pada semester tersebut kami sekelas mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Dosen mata kuliah tersebut adalah orang yang sibuk, sehingga cenderung sering tidak hadir untuk mengajar. Walau begitu selalu ada semacam dosen pengganti yang bertugas menghandel kelas kami.

Walaupun dosen pengganti tersebut sangat rajin, namun suatu saat dosen tersebut mungkin agak jenuh juga dengan kelas kami. Ketika akan menutup kelas, beliau menunjuk saya dan dua orang rekan saya. Kebetulan kami bertiga duduk paling depan di kelas.  Beliau menyuruh kami untuk mempersiapkan presentasi untuk minggu depan. Ya, hanya kami bertiga yang disuruh presentasi minggu depan. Waduh, sial deh (dalam hati bergumam). Tak ada pilihan lain bagi kami selain mematuhinya.

7 hari kemudian..

Kami bertiga akhirnya mempresentasikan suatu tema yang entah ide siapa pada awalnya. Temanya adalah tentang cinta, akhlak, dan amal sholeh. Saya sendiri kebagian membahas tentang akhlak.

ternyata..

Tidak selamanya duduk paling depan di kelas itu menguntungkan, walau kata David Schwartz, duduk paling depan akan menambah rasa percaya diri, dan itu benar. Kejadian yang saya alami di atas, bisa ditanggapi beragam. Ada yang menganggapnya sebagai suatu kesialan, ada pula yang menganggapnya peluang untuk beropini.

Wahai siapapun yang belajarnya di kelas, jangan sungkan-sungkan untuk duduk di paling depan. Awalnya pasti akan grogi (bagi yang tak terbiasa), tapi lama kelamaan pasti ketagihan. Dan siapa tahu bakal ketiban ‘proyek’ yang tidak disangka-sangka.

bukti :

presentasinya

Presentasinya : Yosep, Eka, Adam (thanks for Haki atas fotonya)

Kisah Penambang Emas dan Lubang di Hati Manusia

Dikisahkan bahwa ada seorang pencari emas yang begitu bersemangat. Pekerjaan yang ia lakukan adalah menggali tempat yang dicurigai diduga sebagai ladang emas. Suatu ketika ia begitu senang ketika menemukan tempat yang diduga sebagai ladang emas tersebut. Dengan bermodal sekop ia menggali terus di tempat tersebut. Dari hari ke hari lubang yang ia gali semakin dalam. Suatu ketika ia tahu bahwa lubang itu telah terlalu dalam digali dan ia mulai berfikir mengapa ia tidak menemukan satu pun pertanda tentang keberadaan emas di dalamnya. Ia menyadari bahwa ia telah keliru dan berencana untuk mencari tempat lain untuk digali. Namun sayang ia telah menggali terlalu dalam.. sangat dalam, sehingga ia tak mampu untuk kembali naik ke atas agar bisa mencari tempat yang lain untuk digali.

Kisah ini saya dapat dari seorang teman yang sudah malang melintang bermain hati, hihi. Memang benar kisah tersebut dapat dikaitkan dengan beberapa konteks pembahasan. Namun saat ia menceritakan kisah tersebut, konteks pembicaraan kami adalah mengenai interaksi yang dilakukan oleh manusia. Setelah mendengar kisah tersebut akhirnya dapat saya pahami bahwa ketika manusia berinteraksi dengan seseorang yang menarik baginya, itu berarti ia sedang menggali lubang di dalam hatinya. Semakin sering ia berinteraksi maka akan semakin dalamlah lubang tersebut. Namun ketika keadaan terburuk datang, dimana lubang tersebut tak dapat digali lebih dalam lagi atau ketika ia tak dapat menemukan ‘emas’ yang dicari, maka sungguh sulit untuk dapat keluar dari lubang tersebut. Maka.. janganlah terlalu dalam menggali lubang di hati karena itu sangat berbahaya berresiko. Galilah cukup satu atau dua meter saja agar masih dapat melihat tanah yang lain untuk digali. :D

Cara Sang Ayah Mengajarkan Kesederhanaan

Nampaknya kemarin adalah kali pertama kami makan di luar berdua semenjak lima tahun lalu. Selepas magrib di RS**, saya dan sang ayah pergi keluar untuk makan. Saya pikir kami akan makan nasi uduk atau nasi soto atau nasi padang atau nasi goreng. Ternyata sang ayah malah belok ke lapak kecil yang kumuh dan sempit. Lapak tersebut nyaris tak terlihat karena ‘tertutupi’ lapak-lapak bagus yang ada di sekitarnya. Saya lihat, oh ternyata itu adalah warung nasi biasa. Makanan yang ada di etalase kecilnya pun sudah hampir habis. Kami pun makan di sana.

Sambil tersenyum, saya bergumam dalam hati: “Oh.. seperti ini ya Pah. Baiklah, akan ku ajarkan pula pada anak cucu ku nanti”.

when i was small, with papa

Saatnya Bicara Tentang Cinta

Jarang-jarang menulis tentang topik seperti ini lagi. Maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah sebagai summary dari tulisan-tulisan inspiratif tentang cint*. Banyak orang terlena sampai merana karenanya. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa produktif.

SATU
kalau boleh berpuisi inilah puisinya :

Kulihat cinta dari sang ibu
Kulihat cinta dari sang ayah
Kulihat cinta dari sang adik
Namun belum kulihat cinta dari dia

(sudah, itu saja puisinya)

DUA
Bagi anda para remaja, ada berita dari detik tentang penelitian resiko pacaran usia muda (http://tinyurl.com/yzd2ajb). Inti dari penelitian tersebut adalah : dengan menjalin hubungan terlalu dini ternyata sangat beresiko terhadap kesehatan fisik dan psikis. Bagi yang sudah terlanjur, ya semoga hasil penelitian itu tidak berlaku untuk anda.

TIGA
Setelah mendapat pencerahan dari founder ilmuKomputer.com melalui tulisannya (http://tinyurl.com/yezxap6), ternyata kebanyakan pemuda/pemudi melakukan dua kesalahan :
1. Salah menempakan posisi hati.
2. Salah mendefinisikan arti cinta.

Poin utama dari tulisan tersebut : Mencintai diri sendiri secara baik adalah awal untuk mencintai orang lain. Cinta akan datang dengan sendirinya ketika sudah dapat mencintai diri sendiri secara baik.

(bersambung…)


Resolusi di Penghujung Usia 19

Oleh : Eka Risyana Pribadi

OK, tak terasa hidupku telah hampir dua puluh (20) tahun. Angka dua puluh merupakan angka yang menurutku begitu identik dengan kedewasaan dan kematangan berfikir. Tapi, aku sendiri merasa bahwa diriku yang saat ini adalah diriku yang tak jauh berbeda dengan diriku 2-3 tahun lalu. Emosioanal, perfectionist, over confident, dan sulit mempercayai orang lain.

ultahTapi tak apalah, yang penting di umur dua puluh ini, aku tak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan yang dateng. Yang jelas, aku tak mengharapkan belasan atau puluhan kiriman sms dari teman2 yang mengucapkan selamat hari ulang tahun, juga tak berharap mendapat comment di friendster/facebook.

Jreng-Jreng. Hal istimewa yang terjadi pada hari lahir ku tahun ini adalah : Bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1429 H.

OK, langsung ke point utama, resolusiku di umur yang ke-20 nanti adalah :

  1. Mendapat penghasilan 1 juta perbulan
  2. Menguasai cakePHP
  3. Menguasai Java
  4. Menguasai C#
  5. Menjadi rujukan teman-teman kuliah
  6. Tetep berkontribusi di FORIS 03
  7. Tetep berkontribusi di KEMAKOM
  8. Nggak nikah (halah)
  9. Menjadi AsDos yang lebih baik
  10. Khatam Quran 8 kali
  11. Memiliki rambut agak panjang

Mungkin itu resolusi yang ada di benakku saat ini. Saya yakin sebagian pembaca ada yang mencibir, tertawa, merana, dan tersiksa (halah, lebay). Tapi mungkin itulah yang ingin aku capai di usia yang tidak muda lagi matang ini.

Oh mamah… oh papah… anakmu kini sudah semakin dewasa. Ampunilah aku, masih selalu merepotkan kalian. Doakanlah pula agar anakmu ini bisa mencapai segala harapan mulianya.

Oh Allah, izinkan aku mendekat padaMu, Ampunilah aku, yang terlalu sering bermaksiat di hadapanMu, Astagfirulloh.

Oh teman-temanku, dukung aku ya ! untuk jadi next idol, lho ? hahahahah : )

Terakhir, Oelang Taoen adalah tidak mengulangi kebodohan taoen-taoen jang laloe

Hey Sadar ! Kamu Bukan Fahri

Oleh : Eka Risyana Pribadi

Judul yang aneh. Itulah yang aku pikirkan ketika akan menulis tulisan ini. Namun setelah dipikir-pikir, judul tersebut aku rasa adalah yang paling pantas untuk menggambarkan perasaanku yang sedang ‘aneh’ ini.

aac1Salah satu teman akrabku akhir-akhir ini bertingkah aneh dan sedang dilanda fenomena ‘butuh cinta’, hahah lebay. Dia menjadi sangat terbuka, tak seperti biasanya. Ketika aku tanya mengenai wanita yang pernah singgah di hatinya, ia menjawab dengan percaya diri dan tanpa rasa canggung menyebutkan satu persatu wanita yang pernah ia sukai di jurusan tempat kami kuliah. Sangat bertolak belakang dengan prinsip yang aku pegang : “Biarlah aku sendiri yang merasakan manis dan pahitnya cinta”

Merasa ge-er ketika ada sesuatu yang menimpa bukanlah hal yang salah karena lebih baik seperti itu daripada tidak merespon sama sekali. Itulah pendapatku. Ya, (satu-satunya) wanita bercadar yang sempat berinteraksi denganku-lah yang membuatku ge-er, karena salah satu pertanyaannya yang ia lontarkan padaku : “kalo aa jaganya tiap malem ya ?”. Duh, kalo kepikiran kejadian itu aku jadi inget novel AyatAyatCinta. Oh, tidak ! tidak ! aku bukan Fahri !

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.