Buang Sampah, Tertib Antrian, dan Hubungannya dengan Capuchino Cingcau

Gak di Bandung, gak di Jakarta, cukup gampang menemukan orang yang buang sampah sembarangan. Beberapa waktu lalu, saya gak sengaja melihat anak kecil melempar sampah dengan santainya ke jalan raya. Di lain kesempatan pernah pula melihat anak kecil membuang sampah ke selokan. Ada yang lebih parah, di depan saya sendiri pernah ada bapak-bapak membuang puntung rokok asal lempar begitu saja. Miris memang sih.

Tapi kemarin saya dibuat kagum sama anak kecil, umurnya sekitar 3-5 tahun. Saat sedang asik menikmati capuchino cingcau, terdengar suara anak kecil mengoceh. Tidak jelas anak itu bicara apa, tapi kemungkinan bukan menggunakan bahasa Indonesia. Anak itu berlari-lari sambil megang sesuatu. Sambil tetap mengoceh, bocah itu menghampiri tong sampah dekat elevator dan membuang sesuatu ke tong sampah itu. Rupanya yang dipegang bocah itu adalah sampah. Saya sempat berpikir, di mana ya orang tuanya, kok anak itu sendirian di tempat seperti ini. Tak lama setelahnya, terlihatlah orang tua si anak itu. Dia datang menghampiri si anak sambil bilang sesuatu. Saya kagum, anak sekecil itu sudah diberi pemahaman dan dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, sampai-sampai di anak antusias untuk nyari tong sampah sambil berlari-lari.

Masih terkait dengan capuchino cingcau. Ada kejadian lain yang gak kalah mirisnya. Pernah suatu waktu saat antre membeli minuman itu, tiba-tiba ada dua bocah seumuran anak SMP nyerobot antrian tepat di depan saya. Lalu mereka pesen dengan santainya ke si mbak yang jualan. Karena agak kesel, saya reflek masang muka gak senang. Tapi untungnya si mbak yang jualan juga ngerti, dia gak menanggapi pesanan mereka, sebaliknya dia langsung melayani saya yang antriannya diserobot. Miris sekali, anak seumur itu masih belum ngerti caranya antre.

Kalau inget dua jenis insiden di atas, saya semakin bertekad kalau suatu saat punya anak, maka akan ditanamkan dua sikap sederhana, yaitu membuah sampah pada tempatnya dan mengantri dengan benar. Dengan membiasakan membuang sampah pada tempatnya, si anak belajar untuk disiplin sambil menghargai kebersihan. Sedangkan dengan mengantri dengan benar, si anak akan belajar untuk sabar dan menghargai orang lain yang sudah antre duluan.

Tapi eh, dua insiden itu juga bisa jadi bahan introspeksi buat kita, orang dewasa. Apakah selama ini sudah membuang sampah pada tempatnya ? Apakah selama ini sudah bisa tertib saat mengantri ?, nah lho.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s